Titip Salam Ya Cak Rusdi Mathari

Orang yang tidak pernah saya temui, tapi karya dan hidupnya sebagian tertanam dalam benak saya.

Setiap orang selalu membawa utang rasa —mengutip Mbah Sujiwo Tejo kepada setiap orang lain yang ditemuinya atau dibawa ke dalam imajinasi bertemu dengannya, atau paling mentok minimal melihat tinggah lakunya. Begitupun dengan saya, banyak orang yang tidak pernah bersua ataupun bertemu dengan saya, tapi sebagian tingkah hidupnya yang tampak dan saya ketahui adalah hal yang dapat menjadi pelajaran bagi saya, minimal mengagumi dalam hal berkarya dan menjalani laku hidup, contoh konkretnya adalah Rusdi Mathari. Orang yang tidak sekalipun pernah saya lihat langsung, dan tidak pula pernah bercakap secara langsung, kecuali lewat facebook, sebab saya pernah satu dua kali berbalas komentar di status facebook Cak Rusdi (begitu saya menyebutnya, supaya sama dengan kebanyakan orang).

Cak Rusdi dan Facebook.

Cak Rusdi, tentu panggilan ini tak pernah saya ucapkan secara langsung kepada orang yang punya nama, hanya sesekali menyebutnya lewat media sosial, khususnya facebook dan twitter. Pertama kali mengenal (lebih tepatnya mengetahui) beliau dari kanal media sosial facebook. 3-4 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2014-2015 adalah masa dimana lingkungan pertemanan facebook saya mengalami peralihan, urbanisasi besar-besaran itu terjadi pada pengguna yang sebaya dengan saya, teman-teman saya berangsung meninggalkan facebook dan lebih memilih media sosial lain seperti instagram, twitter, dan path. Karena pengguna yang sebaya dengan saya mulai meninggalkan facebook, tentu saya banyak kehilangan teman yang sliweran di beranda, tahun 2015 adalah masa dimana saya merombak lingkungan pertemanan di facebookteman-teman yang sudah tidak aktif saya unfriend dan saya ganti dengan teman-teman yang lebih produktif dan menularkan energi positif di facebook. Terkadang banyak yang nyeletuk  bahwa facebook sarangnya berita hoax, orang-orang alay, emak-emak atau mbak-mbak spam jualan, tapi menurut saya semua itu tergantung lingkungan pertemanan kita di sana, tergantung lingkungannya. Sebelum tahun 2015, beranda facebook saya dipenuhi dengan status teman-teman saya yang kebanyakan galau, menceritakan hidupnya yang penuh pilu dirundung peliknya kisah asmara ababil, atau status sindir menyindir antar sesama teman, tapi semenjak merombak lingkungan pertemanan, beranda facebook saya mulai mengalir informasi-informasi yang baik, status-status yang membahagiakan, serta arus informasi yang aktual, bahkan menularkan energi positif terutama untuk menulis dan membaca, walaupun tetap saja ada yang membagikan status ujaran kebencian, hoax, dan sejenisnya, apabila saya menemui teman facebook yang seperti itu langsung saya unfriend, bukan untuk apa-apa, hanya ingin menciptakan lingkungan yang baik untuk kesehatan berpikir, mental dan jiwa saya saja. Cak Rusdi adalah salah satu contoh teman facebook saya pasca perubahan lingkungan pertemanan yang saya rombak tersebut, saya pertama kali mengetahui Cak Rusdi dari status yang dibagikan seleb facebook Mas Iqbal Aji Daryono yang sudah saya ikuti terlebih dahulu, akhirnya dua orang kondang tersebut sama-sama saya tahu bahwa mereka menulis untuk media daring Mojok.co. Saya banyak menambahkan teman orang-orang facebook dari lingkaran pertemanan seleb dan buzzer facebook Mas Iqbal Aji Daryono, dari sanalah saya menemukan Cak Rusdi, kemudian Bulan Agustus tahun 2015 saya menambahkan teman akun facebook Cak Rusdi yang sebelumnya saya hanya menjadi pengikutnya, saya kira tak akan mungkin diterima permintaan pertemanan saya, namun tak disangka pada bulan itu juga saya sudah bertemen dengan beliau. Sedangkan dengan seleb facebook Mas Iqbal Aji Daryono baru diterima permintaan pertemanan saya pada bulan Januari 2016, yang mana pada waktu itu beliau sedang bersih-bersih lingkaran pertemanan, itu pun saya meminta dengan melas-melas lewat kolom komentar untuk menerima permintaan pertemanan saya, halah, dasarnya seleb ya begitu, ha ha ha.  Oleh karenanya sampai sekarang saya tetap menggunakan facebook. Saya sengaja tidak membahas Cak Rusdi sebagai wartawan, karena saya tidak punya pengalaman apa-apa dengan beliau sebagai wartawan, walaupun saya tahu beliau adalah salah satu wartawan terbaik yang dimiliki Indonesia. Yang bisa saya kenang ya saya sebagai teman facebooknya Cak Rusdi, yang tiap hari menunggu statusnya yang panjang dan enak dibaca itu.

Cak Rusdi, Cak Dlahom, dan Cak Nun.

Saya boleh dibilang mengikuti media daring Mojok.co dari masih seonggok jagung hingga sekarang sudah menjadi ladang jagung yang melimpah. Pertama tahu Mojok.co dari sejak SMA kelas 3, sejak tahun pertama Mojok.co diluncurkan, sejak pengikut fanpage  Mojok,co di facebook masih segelintir atau beberapa ribu saja, begitupun follower di twitternya. Saya ingat betul masa-masa saya mendaftar kuliah dulu, saya sempat tidur di emperan Masjid Kampus Undip sendirian, karena paginya saya perlu mengurus hal-hal tentang pendaftaran, sementara rumah saya jauh dan tidak sempat mencari penginapan. Keesokan harinya sebelum saya bergegas pulang sempat-sempatnya saya membaca Mojok.co terlebih dahulu di tangga beranda Masjid Kampus Undip. Dari sana saya mengikuti perjalanan Mojok.co sampai pada saat saya pindah ke Yogyakarta di mana markas besar Mojok ada di kota istimewa tersebut, saya sempat pula menghadiri syukuran 1 tahun Mojok di Angkringan Mojok (dulu), sekarang masih ada nggak sih Angkringan Mojok?. Saya mengikuti Mojok.co dari tidak menggunakan ilustrasi dan gambarnya mengambil dari situs unduh gambar atau foto gratis pixabay.com sampai kemudian mati suri dan hidup kembali dengan gaya slengekan yang makin menjadi, ditambah ilustrasi yang asoy yang tetap mendalam dan menghibur.

Tulisan Cak Rusdi serial Cak Dlahom di Mojok.co | Sumber: mojok.co

Ramadan tahun 2015 adalah pertama kali serial Cak Dlahom mengudara di Mojok.co dan juga langsung saya buka pertama kali, ternyata yang menulis Cak Rusdi, lalu saya baca sampai tuntas, kemudian saya merasa familier dengan cerita yang dituliskan Cak Rusdi, merasa pernah didongengi sebelumnya tentang apa yang dituliskan Cak Rusdi pada serial Cak Dlahom pertama kali itu, ternyata setelah saya baca sampai akhir di sana ada penjelasan bahwa “*diadaptasi dari cerita yang disampaikan Cak Nun.“,  berikut adalah serial Cak Dlahom pertama kali mengudara yang sampai sekarang masih saya baca ketika menyambut bulan Ramadan: Benarkah Kamu Merindukan Ramadan?. “Owalah pantesan saya pernah mendengar sebelumnya” gumam saya waktu itu. Ternyata cerita yang disarikan dari cerita Mbah Nun,  kemudian pada penjelasan tersebut diikutsertakan tautan yang menjurus pada blog pribadi Cak Rusdi yang isinya menulis reportase tentang perjalanan mengikuti kelilingnya Mbah Nun di berbagai kota dari Temanggung, Semarang, Kudus, Surabaya sampai Jakarta di Kenduri Cinta. Saya membaca dua reportase yang ditulis dan dibagikan di blog pribadi Cak Rusdi, saya begitu menikmati reportase yang ditulis Cak Rusdi tersebut, bahasanya mengalir indah, mudah dipahami, saya seperti didongengi dan hanyut pada cerita yang diceritakan, sehingga seakan saya benar-benar ada di lokasi maiyahan tersebut. Tulisan Cak Rusdi tersebut masih bisa dinikmati di blog pribadinya, dengan judul Dan para petani tembakau itu memeluk Cak Nun dan Jangan ikuti Cak Nun, jangan…  baca sampai tuntas untuk menikmati tulisan ringan dan mendalam Cak Rusdi. Satu persatu serial Cak Dlahom saya baca, hingga semuanya saya nikmati pada ramadan tahun 2015 waktu itu, satu tahun kemudian serial Cak Dlahom kembali hadir pada ramadan tahun 2016 tapi tidak sepadat tahun 2015, hingga satu tahun kembali berlalu dan pada ramadan 2017 sudah tidak ada serial Cak Dlahom, saya cukup sedih. Kumpulan serial Cak Dlahom itulah yang dihimpun menjadi buku dengan judul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya.

Tulisan reportase Cak Rusdi di blog pribadinya | Sumber: rusdimathari.wordpress.com

Titip Salam Cak…

Hingga akhirnya saya tahu Cak Rusdi sedang sakit, kanker menggerogoti tubuhnya, tapi saya tahu semangat juangnya tak pernah padam, saya sudah tahu Cak Rusdi sakit sejak beliau menulis status facebook tentang sakitnya tersebut. Saya melihat energi positif selalu mengalir di setiap kolom komentar status beliau untuk mendoakan kesembuhannya. Di keadaan sakitnya beliau tetap menulis, tetap membuat pembaca senang dan menikmati dengan tulisannya. Saya diam-diam ikut mendoakan kesembuhan beliau, karena dulu setiap hari saya selalu menunggu status panjangnya di facebook yang kadang bercerita tentang hal sederhana, tentang anaknya Voja, tentang ceritanya di rumah, sebagian statusnya di facebook dihimpun di buku dengan judul Aleppo.

Buku Aleppo, himpunan tulisan Cak Rusdi di facebook.

Berkat beliau saya suka menulis, walaupun saya tak bisa menulis, lebih kepada ingin bercerita lewat tulisan, tapi saya tahu harus menulis karena saya menyukainya, tentang apapun yang bisa saya tulis, kalau jelek nanti diperbaiki, kalau tak berbobot nanti banyak membaca lagi, yang pasti saya ingin mampu menulis cerita seperti Cak Rusdi ketika membuat status di facebook, mengalir, enak dibaca, menambah pengetahuan, dan yang pasti tentang hal-hal sederhana. Saya ingin menulis hal-hal sederhana yang mampu dikenang dimasa yang akan datang, dan berkat Cak Rusdi saya punya semangat dan kekuatan untuk menggerakan jari-jari saya mulai mengetik kata demi kata.

Kalau fisikmu pengen sehat, bergeraklah.
Kalau jiwamu pengen sehat, bergeraklah.
MENENTANG ARUS, SEPERTI IKAN.

—Rusdi Mathari

Saya belum sempat ketemu Cak Rusdi, penyesalan saya adalah ketika tidak bisa ikut kelas menulis yang mana pematerinya Cak Rusdi. Padahal saya tahu itu kesempatan untuk bertemu dengan beliau. Tapi Allah menakdirkan hal lain, 2 Maret kemarin buku Aleppo yang saya beli di Toko Buku Togamas Affandi Jogja belum tuntas saya baca, tapi saya mendengar kabar dari facebook dan twitter kalau Cak Rusdi sudah mangkat terlebih dahulu mendahului kita semua. Saya kaget, saya sedih, saya tidak akan lagi menemui status-status panjang di facebook dari akun Rusdi Mathari, saya tidak akan menemui lagi serial Cak Dlahom yang dimuat di Mojok, saya tidak akan melihat update terbaru di blog peribadinya Cak Rusdi. Beliau pergi di Hari Jumat sebelum bulan Ramadan datang yang biasanya serial Cak Dlahom dimunculkan, kami semua merindukan tulisan serial Cak Dlahom, Cak. Kami semua merindukan status-status facebook panjenangan, dan kami semua akan rindu wartawan yang dengan teguh menegaskan: Karena jurnalistik bukan monopoli wartawan, seperti tagline pada blog pribadi panjenengan.

Selamat, Cak. Panjengan sudah naik tingkat ke semester berikutnya, sementara kami masih di semester ini, masih royokan, masih jegal-jegalan, masih sandung-sandungan di dunia yang semakin keruh dan menjijikan ini. Kami semua antre, walaupun tidak tahu dapat nomor ke berapa. Titip salam rindu berat kami kepada kekasih-kekasih Allah di surga, terlebih untuk kanjeng Nabi Muhammad Saw. Al Fatihah.

Tulisan ini sudah sejak lama saya buat menjadi draf yang rencananya untuk memperingati 100 hari kepergian Cak Rusdi bulan Juni kemarin, oleh karenanya tulisan ini tetap terbit pada tanggal 13 Juni 2018, walaupun baru sempat saya selesaikan di awal Agustus ini dan saya tambahi foto buku-buku kumpulan tulisan beliau yang diterbitkan teman-temannya akhir Juli 2018.

BACA JUGA