Silih Bergantinya Perjumpaan dan Perpisahan

Jumat sore tanggal 3 Agustus kemarin adalah hari yang membahagiakan bagi saya, bagaimana tidak, saya akan mengunjungi Solo untuk beberapa hal keperluan, salah satunya mengunjungi teman saya Amat, Mana, dan teman-teman yang lain di rumah dinasnya, cielah, di mes (sebenarnya tidak tepat kalau disebut mes, lebih tepat rumah kerja) tempat mereka bekerja di Solo. Saya berangkat dengan teman baik saya Latifah, berangkat dari Jogja pukul 5 sore, sebelumnya saya menjemput Latifah terlebih dahulu di kosnya sekitar pukul setengah 5, selanjutnya menggunakan motor Latifah kami bergegas menuju Stasiun Lempuyangan. Sesampainya di stasiun kami menitipkan motor untuk diinapkan semalam, setelah itu mengambil tiket Kereta Api Prameks yang sudah dibelikan mas-mas penjaga parkiran inap tersebut, banyak orang menyebutnya calo, saya tidak sampai menyebutnya begitu, ya sederhananya seperti ini: kita butuh, meminta tolong, lalu kita memberi imbalan, konsep dalam otak sudah saya set seperti itu, jadi apa ya namanya? kalau memang hanya ada kata calo untuk menggambarkan itu ya sudahlah sebut saja begitu, tapi perlu diingat bahwa itu bukan definisi yang selama ini digunakan kebanyakan orang (ribet banget). 

Dadakan.

Ini perjalanan yang sangat tidak direncanakan jauh-jauh hari, bahkan saya mengetahui rencana Latifah akan pergi ke Solo semalam sebelum hari Jumat alias Kamis malam, waktu itu saya yang sedang capek-capeknya mengajak Latifah untuk mengunjungi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-30, bukan mengajak, lebih tepatnya menunaikan janji yang sudah saya buat dengan dia sehari sebelumnya. Di FKY tersebut Latifah bercerita rencananya ingin mengunjungi Solo bersama Yeni, teman baik saya yang lain, sontak dia menawari saya untuk ikut perjalanannya. Saya penasaran, untuk apa mereka mau ke Solo yang sepertinya memang sudah direncanakan jauh hari. Kemudian baru saja saya akan bertanya kepada Latifah, eh dia sudah menjawab pertanyaan saya secara kebetulan,

“Aku arep ning Solo mbi Yeni, Res. Melu ora?”
“Kapan?”
“Sesok Jumat”
“Ngooo…”
“Nonton Kahitna”
“Jumat Sesok iku?”
“Heem”

Saya diam sejenak, lalu saya berpikir dan menanyakan tidur di mana dan pertanyaan serupa lainnya, kemudian saya mengiyakan ajakan dia. Saya rasa saya memang perlu ke Solo, kota tempat keluarga saya memungut ilmu mulai dari Ibu, Bapak, dan Mbak saya, bahkan bertemunya Bapak Ibu saya juga di kota tersebut, kemungkinan kalau tidak ada kota Solo, saya tidak akan lahir di dunia ini, atau mungkin ada takdir lain yang sudah dicatatkan di Lauhul Mahfuz. Saya memang menjadi anomali dalam keluarga sudah sejak dari SMP, mulai kesukaan, pemikiran, kebiasaan, dan hal-hal lainnya, seperti yang saya sebut secara eksplisit tersebut, alasan lain ya karena saya jarang ke Solo, kalaupun ke sana saya hanya lewat ketika mau pulang ke Pati, tak sempat menyapanya, tak sempat mampir untuk sekedar singgah beberapa jam, tak sempat menikmatinya. Hari Jumat saya tanyakan kepada Latifah perihal rencana ke Solo, tapi ternyata ada kabar yang cukup tidak mengenakan, Yeni yang semula akan pergi bersama Latifah (sebelum saya ikut) malah tidak jadi ikut, sempat akan tidak jadi pergi, tapi Latifah sepertinya ingin sekali ke sana. Siangnya, Inggrid, teman baik saya juga, yang sebelumnya berada di Bandung sudah berada di Jogja, dan ternyata Latifah sudah mengajaknya, tapi karena terlalu mendadak ya sayang sekali Inggrid tak jadi ikut juga, ya sudah akhirnya kami berangkat berdua.

Potret bagian kecil FKY dan swafoto diri saya dengan Latifah 

Sampai di Solo.

Perjalanan menggunakan Prameks menjadikan waktu cepat berlalu, tiba-tiba kami sudah sampai Solo, kami turun di Stasiun Purwosari, sampai Solo senja sudah hilang, malam menjelang, azan magrib sudah lewat, setelah menunaikan solat dan ke toilet sebentar, kami bergegas mencari tempat makan, Latifah mengajak saya ke warung makan Sop Ayam Kampung Sareh, tempat dia sarapan kalau ke Solo katanya. Ya sudah saya ngikut saja, kalau yang mengajak Latifah saya percaya saja, dia adalah teman saya yang paling tahu soal kuliner, tapi kalau makan cuma sedikit (incip-incip tok), begitulah sepertinya laku hidup orang-orang foodiest. Saya tidak akan membahas tentang rasa sop tersebut, yang pasti enak, gitu aja. Setelah makan selesai kami memesan go-car dan menuju ke halaman Kantor Walikota Surakarta, di sana Amat, Mana, Mbak Risma, Mbak Mira, Mas Tiyo, Mas Lukman sudah asyik menonton Via Vallen, Tulus, dan Raisa yang terlebih dahulu tampil. Sementara saya dan Latifah memang tujuannya menonton Kahitna, jadi ya biasa saja lah ketinggalan konser yang lain, toh sudah sering (ngak sering ding, beberapa kali tok) nonton Raisa dan Tulus di Jogja, jangan tanya kalau Via Vallen, sudah sering semenjak masih manggung antar hajatan-hajatan desa dengan kelompok Orkes Melayu, hahaha. Ketika kami sampai di lokasi konser, Raisa sudah bernyanyi mungkin hampir 1/3 dari jumlah lagu yang dibawakan saat itu, hingga Raisa selesai bernyanyi, kami belum ke lokasi penonton, hanya muter-muter mencari toilet.

Menikmati Konser.

Ketika Kahitna sudah waktunya naik panggung, saya dengan Latifah bergegas lari ke dekat panggung dengan diikuti Amat dari belakang. Sebelum itu kami sedang akan membeli minuman dan mencari Mana dan Mbak Risma yang hilang diantara ratusan kepala bahkan ribuan yang sama-sama memakai jilbab, ya kami merasa semua wanita sama semua pada saat itu, hingga sulit mencari mereka berdua, jadi, Mana dan Mbak Risma yang sedang membeli minum kami tinggal, hahaha, sementara Mas Tiyo, Mas Lukman, dan Mbak Mira menunggu di teras kantor walikota. Kami menikmati lagu demi lagu, Amat yang kurang tahu dengan Kahitna cuma melongo saja, saya yang sebelumnya telah menghafal lirik-liriknya dan memutar lagu Kahitna sepanjang hari sebelum pergi ke Solo lumayan bisa ikut bergoyang dan sangat menikmati konsernya. Sebenarnya rencana kami semua memang berbeda, saya dan Latifah fokunya pada Kahitna, sementara Amat, Mana, Mbak Risma, Mas Tiyo, Mbak Mira, dan Mas Lukman fokusnya pada Raisa dan Tulus. Ya sudah, jadi tidak apa lah ketika konser Kahitna yang kelihatan menikmati cuma saya dan Latifah. Setelah Kahitna turun panggung saya, Amat, dan Latifah baru ketemu Mana dan Mbak Risma yang tadi kami tinggal yang sekarang sudah bersama Mas Lukman. Setelah itu kami bersama menonton GAC, saya tidak mengikuti perjalanan GAC jadi ya tidak tahu lagu-lagunya, tapi lucunya kami malah minta foto barang-bareng sama salah dua dari mereka.

Suasana foto dengan personil GAC

Pulang dan Kembali.

Sebenarnya masih ada satu penampilan lagi dari Andra & The Backbone, tapi kami memutuskan untuk pulang, karena sudah merasa capek semua. Keesokan harinya saya dan Latifah harus kembali ke Jogja, rencana sebelumnya akan pulang dengan jadwal keberangkatan kereta pukul 07.20 pagi, tapi kehabisan tiket Prameks, ya sudah mundur 2 jam. Jam 09.10 kami berdua baru berangkat dari Solo menuju ke Jogja dari Stasiun Solo Balapan.

Latifah di stasiun Solo Balapan

Sepanjang hampir 2 jam menunggu keberangkatan itu kami banyak berbinjang, melamun, memikirkan suatu hal, dan yang pasti ada satu hal sentimentil yang mengganjal perasaan saya: perpisahan. Benar, kami semua sudah lulus sejak ditetapkan pada hasil yudisium akhir Juli kemarin, kalau pernikahan kami semua sudah melakukan akad, sudah lulus, tinggal menunggu wisuda atau resepsinya akhir Agustus tahun ini. Tentu kami semua akan berpisah, yang namanya perpisahan tetap saja memunculkan rasa haru, apalagi saya orang yang melankolis dan sangat sentimentil untuk beberapa hal seperti itu. Pada suatu kesempatan Latifah bertanya kepada saya,

“Res, nak kowe ketemu wong ngene iki menurutmu takdir gak?” Sambil menunjuk orang lewat.
“Iyo takdir menurutku, tapi takdir sing ora default alias qodar”

Suasana Stasiun Lempuyangan, Klaten dan Solo Balapan

Kemudian Latifah bertanya kembali kepada saya, takdir yang tidak bisa diubah apa, saya punya jawaban, dia meyakini jawaban yang berbeda dengan saya, saya diam, lalu mempersilahkan dia menjelaskan tentang apa yang dia yakini.

“Mbuh, ilmuku durung tutuk” 

Katanya, begitulah orang-orang ketika beralibi dengan apa yang tidak bisa mereka jawab (maksud dia orang-orang sering beralibi dengan kalimat tersebut ketika tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan dari orang lain), hahaha, benar juga. Kemudian saya ingat hal tentang sesuatu yang saya yakini: bahwa perjumpaan itu takdir, sedangkan perpisahan itu nasib.

Hidup hanyalah silih bergantinya perjumpaan dan perpisahan.

Sebenarnya saya mau mengajak dan diajak Latifah keliling ke FKY dan nonton konser ke Solo karena satu hal, pada hari itu juga dia sudah beres-beres kosnya, dia akan segera pergi dari Jogja. Untuk kesekian kalinya saya merasa kehilangan pada suatu perpisahan, setelah Amat yang sudah tidak stay  di Jogja, Ahmed yang merantau ke Jakarta, dan Latifah yang menyusul pergi. Pada akhirnya, kami semua akan benar-benar pergi meninggalkan Jogja dalam rentang waktu tertentu, dan dalam rentang waktu itu mengalir pengharapan bisa kembali ke kota istimewa ini dan bersua bersama-sama, untuk sekedar membeli fremilt di Jalan Kaliurang dan meminumnya sambil duduk di beranda toko yang sedang tutup disebelahnya, atau makan malam di warung makan Preksu dengan cabai dua, atau minum jamu kunir asem, temulawak, pegel linu di emperan Jalan Monjali.

Untuk setiap perpisahan saya hadirkan lagu ini, agar kita paham bahwa hidup hanyalah silih bergantinya perjumpaan dan perpisahan.

BACA JUGA