Mendengar Untuk Menampung

Dua hari lalu, 2 Juli 2018 saya menginap di kontrakan teman saya, setelah sebelumnya maiyahan di Kulon Progo. Namanya Bokir -tentu ini nama panggilan- nama aslinya Ridho, dia tinggal bersama temannya dari Ponorogo. Pagi menjelang, saya diajak sarapan dan tak pikir panjang saya setuju saja, rencana waktu itu akan sarapan di tempat warung makan pecel di daerah Condong Catur, Depok, Sleman, nyatanya tutup. Memang saya kurang beruntung. Lalu perjalanan dilanjutkan dan berbelok di tempat makan warmindo dekat kos saya dulu di daerah yang sama. Saya pergi bertiga bersama Bokir, dan satu temannya dari Ponorogo.

Sesampainya di warmindo saya dan teman Bokir(gobloknya saya lupa namanya) memesan magelangan, bokir memesan nasi orak-arik ditambah cireng. Sepanjang kami makan biasa saja, hingga akhirnya setelah menghabiskan sepiring makanan yang ada di depan masing-masing dan meneguk minuman, rokok akhirnya keluar, batin saya bergumam “Saatnya percakapan dimulai”. Percakapan berlangsung sangat pelik, dari membahas hal remeh temeh sampai yang berat-berat, saya yang di sana hanya sebagai penonton, seluruh waktu saya curahkan 100% untuk mendengarkan, walaupun saya punya opini dan pandangan tentang apa yang mereka bicarakan. Mereka berdua bergelut mulut tentang sanggar mereka, keberanian berbicara, dunia tulis menulis, hingga bahan bacaan, mereka berbicara dari opini seorang wartawan sampai buku Pram, mereka beradu argumen dari kecintaannya kepada Mbah Nun sampai jancuk-jancukannya Mbah Tejo, mereka saling bercerita tentang sebuah proses sebagai jalan hidup yang ikhlas. Yang satu senior yang satu junior, mereka tak punya sekat.

Saya kagum. Saya tak menyangka, hanya mendengarkan saja saya mampu mengambil banyak pelajaran. Sebatang rokok saya ambil dari bungkusnya, saya sulut korek dan menghisapnya dalam-dalam dengan mata menutup, sembari telinga onair agar tak ada sepenggal kalimat dari mereka berdua yang terlewat terdengar. Saya tahu ini rokok yang kemarin malam dibeli waktu maiyahan.

Ada beberapa pesan dari orang tua yang saya ingat ketika mereka berhenti berdialog: Lamun siro landhep aja natuni, lamun siro banter aja nglancangi, lamun siro pinter aja ngguroni. Tabik.

BACA JUGA