Sebuah Khayalan Tentang Fantastic Four

Sebuah catatan Praktik Kerja Lapangan di Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Masa kecil saya selain dimanjakan oleh tayangan serial kartun di TV, satu-satunya hiburan bacaan adalah komik. Tentu masa itu masih didominasi komik-komik Marvel, salah satunya adalah Fantastic Four. Pahlawan super fiksi yang beranggotakan Mister Fantastic(Reed Richards), Invisible Woman(“Sue” Strom), Human Torch(Jhonny Strom) dan The Thing(Ben Grimm) menemani masa kecil saya dalam membangun imajinasi soal kepahlawanan dan kekuatan super. Hingga suatu saat, ketika ayah saya baru saja beli handphone(pada saat itu masih handphone Java, dan itu sudah merupakan handphone yang sangat bagus pada masanya), saya pinjam dan kemudian saya unduh permainan Fantastic Four, begitu senangnya saya saat itu, hampir tiap pinjam handphone ayah, saya selalu bermain itu. Hingga pada tahun 2015 kemarin Fantastic Four diangkat ke layar lebar, walau saya agak kurang puas dengan cerita dan hasilnya, tapi itu bisa menumbuhkan rasa kangen sata dengan 4 orang pahlawan super fiksi tersebut.

Di bulan April 2018 ini saya dan teman seangkatan saya kuliah sedang menjalani masa Praktik Kerja Lapangan_ di Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Selama hampir setengah bulan kami melakukan akuisisi data lapangan dengan survei terestris. Saya bergabung dengan tim OASIS yang beranggotakan Saya, Erla, Rifael, dan Iqbal–foto dari kanan ke kiri, dengan anggota tim ini saya kembali diingatkan dengan khayalan imajinasi saya tentang 4 orang pahlawan super fiksi yang tergabung dalam Fantastic Four, kalian tentu tahu formasi tim ini sangat cocok, dengan khayalan yang sama: Saya sebagai Human Torch, Erla sebagai Invisible Woman, Rifael sebagai Mister Fantastic dan Iqbal sebagai The Thing.

Dan inilah Fantastic Four! PKL Teknik Geomatika UGM Tahun 2018.

Fantastic Four. Dari kiri ke kanan: Iqbal, Erla, Saya, dan Rifael

Minggu pertama.

Rangkaian Praktik Kerja Lapangan (selanjutnya saya sebut PKL) ini lumayan panjang, mulai dari pembekalan materi, cek alat yang digunakan dalam PKL, dan menuju pada inti kegiatan PKL itu sendiri yaitu melakukan pemetaan situasi di daerah Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Di cerita kali ini saya tidak akan membahas secara teknis bagaimana melakukan pengukuran sudut, melakukan pengukuran beda tinggi, hingga menjadi peta jadi, tapi saya bercerita secara umum dan hal-hal kecil yang terlitas dalam ingatan saya saja.

Tanggal 4 April 2018 kami satu angkatan pagi-pagi sudah siap bergegas ke kampus, saya yang notabenenya tinggal di kos bersama beberapa teman satu jurusan membuat mobilitas saya ke kampus yang biasanya menggunakan motor, kali ini menggunakan jasa ojek online, dimana memesan satu mobil untuk kamiberangkat ber 3. Kami menyebut yang tinggal di kost tersebut adalah Kost Sukses. Singkatnya kami bertiga –minus Bowo berangkat ke kampus bersama, sesampai di kampus bus yang akan mengantarkan kami seangkatan ke Klaten sudah standby di parkiran lapangan Satub(Satu Bumi). Namun ternyata kami tidak langsung berangkat, karena perlu upacara pemberangkatan terlebih dahulu, jadi setelah meletakan tas di bagasi bus, kami semua ke kampus.

Setelah upacara pemberangkatan dilaksanakan, kami semua naik ke bus dan perjalan ke Klaten di mulai. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai lokasi, dan setelah sampai lokasi tempat kami menginap yaitu di Kampus Lapangan Geologi UGM, segera menuju pembagian kamar, setelah selesai dilaksanakan briefing terlebih dahulu, karena setelah makan siang kami semua langsung ke lapangan. Hari pertama melakukan orientasi lapangan dan pemasangan patok. Di hari kedua melakukan pengukuran Kerangka Kontrol Horizontal, Di Hari ketiga melakukan pengukuran Kerangka Kontrol Horizontal bagi yang belum selesai atau belum masuk toleransi kesalahan, bagi yang telah selesai melakukan pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal. Selama kurang lebih dua minggu tersebut kami didampingi dosen dengan pembagian tiga shif, jadi berlangsung setiap 4 hari ganti dosen pendamping.

Sebelum melakukan pengukuran Kerangka Kontrol Horizontal di keesokan harinya yaitu di malam hari pertama kami melakukan cek alat kembali, karena ketika melakukan cek alat di kampus, alat yang akan kami gunakan masih memiliki kesalahan yang cukup besar, sehingga dikhawatirkan dalam melakukan pengukuran nantinya menjadi lambat ketika tidak masuk dalam toleransi kesalahan

Minggu kedua.

Di minggu pertama beban tugas masih aman-aman saja, kelompok kami yang notabenenya hanya berempat sendiri –dibanding kelompok yang lain yang terdiri dari 5 orang merasa masih enjoy dan bergembira. Ketika mulai memasuki pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal kami merasa sudah mulai agak kesal, walaupun masih biasa saja. Tapi dari semua itu ada hal yang lebih membuat kami senang menjalani hari-hari di lapangan, yaitu keramahan dan kebaikan hati warga sekitar, bagaimana tidak, kami bahkan punya –kalau boleh disebut basecamp, rumah warga yang ketika kamiberistirahat atau sekedar duduk-duduk pasti tak selang lama suguhan minimal teh manis selalu tersedia, bukan main memang kebaikan orang-orang desa. Saya yang notabenenya dilahirkan di daerah rural dan paham betul dengan kebaikan macam itu di daerah pedesaan khususnya di Jawa, berbeda dengan teman-teman saya yang sejak lahir sudah tinggal di daerah urban ditambah tinggal di luar Jawa, lengkap sudah minimnya pengalaman melihat kebaikan-kebaikan macam seperti itu di daerah-daerah pedesaan di Jawa. Saya bukan lagi bangga, tapi lebih senang ketika teman-teman saya merasakan katresnan sesama manusia yang jarang atau bahkan tidak pernah mereka alami sebelum menginjakan kaki ke Jawa khususnya ke Jogja, terlebih ke Bayat, Klaten ini. Sebelum hal tersebut terjadi, kami sempat agak malas mendapatkan lokasi pengukuran yang paling ujung jauh sendiri, ditambah lokasinya sangat kompleks di mana detil situasinya sangat banyak, tetapi dibalik semua itu kebaikan yang kami dapat ternyata lebih dari yang terbayangkan, tempat yang banyak perkmpungannya menjadikan lokasi kami lebih teduh, di samping itu kebaikan-kebaikan warga yang telah saya sebutkan tadi menjadikan kami tak merasa berada di tempat yang asing, kami serasa ada di kampung kami sendiri. Kebaikan yang lain kami dapatkan ketika kami meminjam kendaraan, yaitu kendaraan bermotor maupun sepeda, lokasi kami yang cukup jauh membuat mobilitas kami dari Kampus Lapangan Geologi Bayat tempat kami menginap ke lokasi pengukuran membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak, oleh karenanya untuk meminimalisir hal tersebut kami mencoba pinjam alat mobilitas yang mudah, dan tidak disangka-sangka bahwa kebaikan orang-orang di sana sangat luar biasa, bahkan dalam suatu hari kami sempat pernah pinjam empat kali kendaraan yang berbeda dari penduduk setempat. Dari sana saya sadar bahwa setiap tempat, setiap pertemuan, setiap hal selalu memiliki kelebihan dan kelemahan, dan kewajiban kita adalah bersyukur dalam keadaan apapun.

Lalu sampai pada hari di mana pengukuran telah selesai dan tiba waktunya untuk melakukan penggambaran peta manuskrip di kertas ukuran A0 serta menunggu hari di mana pengujian peta dilakukan. Setelah melakukan penggambaran lalu melakukan uji peta, kami sampai pada waktu untuk kembali ke Jogja, hari-hari di lapangan bersama kelompik pastinya akan dirindukan, lembur untuk menggambar peta pasti akan dikangenkan dan tak ada suatu awal yang tidak berakhir, tak ada pertemuan tanpa perpisahan, dan tak ada canda tawa keakraban tanpa tangis haru perpisahan, maka dengan rasa haru yang sudah mulai menyublim di hati setiap kami, pada tanggal 16 April 2018 pagi semua bergegas, biasanya kami bergegas ke lapangan, hari itu kami bergegas kemas-kemas barang. Dan akhirnya kami meninggalkan Bayat dengan sejuta kenangan dan memori yang mampu kami simpan di dalam kepala kami masing-masing. Kami kembali ke Jogja dan akan berjuang dengan pertarungan yang berbeda lagi: penggambaran peta digital dan penulisan Tugas Akhir.

Untuk sedikit mengenang apa yang sedikit saya ceritakan di atas, maka saya membuat video sederhana sebagai dokumentasi visual, dalam tautan di atas.

BACA JUGA