Ditertawakan Jakarta

Sudah beberapa hari saya berada di Jakarta, kota tempat manusia-manusia berdesakan mengambil tempat. Saya tak merasa baik-baik saja pertama kali di sini, fungsi adaptasi tubuh saya memerlukan pengaturan ulang atau rasanya perlu direstart entah itu dalam kegiatan keseharian, lingkungan, maupun tempat tinggal. Saya sempat bergumam dalam hati saya(tentu dalam bahasa jawa) “aku kayane ora bakal betah urip ning daerah ngene iki” artinya “saya

sepertinya tidak akan betah tinggal di daerah seperti ini.” Apa yang membuat saya tidak betah? biarlah menjadi renungan saya saja, kalau mau nebak-nebak boleh, hehe.

Saya datang bersama 4 orang teman cewek saya dari Jogja, mereka adalah Latifah, Yeni, Khanna, dan Mbak Aul. Cerita perjalanan saya bisa di baca di sini. Sehari berada di Jakarta saya masih baik-baik saja, saya masih tinggal di tempat yang saya merasa bisa hidup yaitu numpang di rumah Om teman saya, karena saya cowok sendiri diantara 5 orang yang berangkat bersamaan tersebut, memaksa saya perlu mencari tempat tinggal yang terpisah dari mereka berempat, nasib mengharuskan saya bergabung dengan teman cowok saya yang lebih dulu berada di Jakarta, yang punya kegiatan saya dengan saya, magang. Saya selama di Jakarta tinggal di daerah Rawamangun, setiap hari kerja(senin-jumat) harus bergegas meninggalkan kamar kos untuk pergi ke kantor yang berada di daerah Menteng. Perjalanan yang tidak dekat memang, juga tidak terlalu jauh bagi saya, namun saya selalu menyaksikan keriuhan kota Jakarta di setiap perjalanan ketika pergi dan pulang dari kantor, yang dulu hanya bisa disaksikan di stasiun-stasiun televisi ketika menyaksikan tayangan berita.

Dua sampai tiga hari saya lalui dengan beradaptasi ulang, memang tidak ada yang begitu terlihat jelas secara fisik, namun dalam tekanan diri saya begitu jelas terlihat. Sebelum saya berangkat ke Jakarta, saya selalu bilang ke teman saya yang tinggal di Jakarta(dulu) “saya ingin menertawakan Jakarta”, secara administrasi dia sudah pindah ke planet Bekasi, perpindahan yang begitu mengharukan saya rasa, ini entah bisa dibilang hijrah atau tidak, karena hijrah tentu pindah dari tempat satu ke tempat yang lain dalam rangka mendapatkan sesuatu yang lebih baik(entah dalam segi apa pun). Apakah pindah dari Jakarta ke planet Bekasi bisa dikatakan ke tempat yang lebih baik? atau sebaliknya? Entahlah. Dalam benak, saya bergumam menambahi pernyataan sebelumnya “kota yang begitu bebal itu, kota yang riuh rendah, manusia hiruk pikuk setiap hari, kota yang sombong”.

Seminggu setelah merasakan tinggal di Jakarta sepertinya saya merasa kata-kata yang saya lontarkan ketika belum menginjakan kaki di sini seperti hilang dalam ingatan, nyali saya menciut, seketika lupa bahwa pernah memekikan kesombongan. Saya disibukan dengan rutinitas yang membosankan, sunguh membosankan. Pergi pagi pulang malam. Kesenangan dan kesombongan yang saya bawa dari Jogja, lenyap sudah. Saya hanyut bersama arus keriuhan Jakarta, hingga rasanya saya yang ditertawakan Jakarta, hingga dalam imajinasi saya, Jakarta berbisik “Mana yang kamu sombongkan, akan menertawakanku? Mana? Apa yang kamu bawa dari kotamu hingga kau mau menertawakanku? Kesenangan macam apa yang kamu bawa? Apakah kesenangan itu masih ada ketika kamu pertama menginjakan kaki di sini? Tidak. Bahan yang kamu bawa untuk menertawakanku hilang seketika saat kamu injakan kaki ke tanah ini. Kamu akan hanyut dipusaranku, bersama orang-orang sombong sepertimu. Hahaha” Diakhiri suara ketawa Jakarta yang semakin menciutkan nyali saya.

Dan beberapa hari setelah mengenyam hidup di Jakarta, saya menyadari bahwa memang sedang ditertawakan Jakarta.